2 bulan yang lalu ..
"Hei go, kamu kenapa? Apa salahku?" kataku sambil setengah berlari.
Dialah Figo Gunawan. Sosok sahabat selama 1 tahun ini, tak pernah aku absen menceritakan semua yang aku alami, dia selalu setia mendengar dan memberi masukan yang aku bisa bilang kadang-kadang tidak bermanfaat. Figo berkulit sawo matang, tidak terlalu tampan, tapi bisa dibilang pacarnya banyak. Aku memanggilnya Gogo, menurutku nama itu gampang diingat, dan kurasa dia tidak bermasalah dengan nama itu.
Hari ini sepulang les matematika aku menghampirinya.
“Go, ada apa? Apa aku punya salah? Kasih tau doongg, ntar mimpi buruk akunya.” Kataku sambil merengek.
“Kamu gak punya salah apa-apa Hani”. Katanya sambil memalingkan muka, yang sembari tadi selalu kutatap.
“Bohong! Liat aku kalau bicara.” Suaraku mulai ketus.
“Udahlah gak penting banget ngomongin ini”. Katanya mulai menstarter motornya.
“Oh gitu yaa. Oke enggak apa, toh aku juga gak ngerti apa masalahnya.” Kataku sambil berlalu.
Aku pun menuju motorku dan memulai menstarternya. Kulihat dari sudut mata Figo sudah pergi. Terbesit sedikit rasa menyesal. Kenapa tadi aku tidak memukulnya sehingga dia bisa tau seberapa marahnya aku? Kenapa tadi aku tidak memaksanya untuk bicara? Kenapa tadi aku mesti marah? Beberapa pertanyaan muncul dibenakku. Kemudian dari arah samping muncul kedua temanku. Jiji dan Tina datang. Jiji menepuk-nepuk punggungku. Jiji rambutnya lurus sebahu, matanya besar, dan selalu memakai bandana kemana-mana.
“Hei gimana tadi? Apa Gogo-mu bilang?” Jiji mulai bersuara.
“Dia bukan Gogo-ku! Tidak untuk saat ini.”
“Oke oke. Kalau begitu apa yang Figo bilang?” Giliran Tina yang bicara.
“Dia bilang tidak ada.”
Tina dan Jiji berpandang-pandangan.
“Ha??? Jadi dari tadi kalian cuma diam saja?” Kata jiji mundur selangkah dari ku.
“Tidak juga. Sudahlah aku mau pulang. Banyak PR yang belum selesai” Jawabku sekenanya.
“Iya, ya sudah Ni. Kamu istirahat saja. Hati-hati di jalan” Tina mengatakannya dengan lembut.
Di jalan, aku hanya diam. Kenapa masalah yang tidak ada awalnya menjadi penting untukku?
Jam 07.15, ponselku berbunyi. “Gogo” begitu nama yang tertera di layar. Langsung aku angkat telfon itu tanpa basa-basi.
“Hani?”
“Halo, iya kenapa?” Kubiarkan suaraku ketus.
“Ah katanya Tina kamu sakit.”
“Sakit? Enggak sih, Cuma pusing aja.” Masih kubiarkan ketus suaraku.
Dalam hari aku meruntukki kebodohan Tina yang mengatakan aku sakit! Tapi biar saja lah, mungkin saja dengan ini Gogo mau bilang alasannya marah. Hihihi…
“Oke cepat sembuh”. Katanya halus
“Kamu nelfon aku karena disuruh mereka atau emang kemauan kamu sendiri?”
“Disuruh mereka lah, aku kan masih marah sama kamu.” Nadanya masih halus seperti tadi.
“Oke fine! Jangan telfon aku!” Kumatikan telfon dengan kasar.
Eh, sialan benar Gogo! Kalau tau begini, malas benar aku angkat telfonnya.
Selang beberapa menit, ponselku berbunyi lagi. Karena sibuk mengerjakan PR tak kulihat nama yang tertera di layar. Langsung saja aku angkat telfon.
“Halo,” Jawabku
“Hani, maaf tadi aku cuma iseng menggoda kamu,”
“Oke nggak apa-apa. Ada apa?” Jawabku jutek
“Ni, jangan jutek-jutek dong, sakit kuping dengarnya!”
“Oke Gogo, ada apa? Kamu sudah bisa beritau alasan kamu marah?” Suaraku melembut.
“Hmm, aku.. sebenarnya..eh aku .."
"Heh, yang jelas dong! Tak tutup telfonnya yaa.."
"Aku marah karena tempo hari waktu, aku bilang kamu cantik kamu malah biasa aja plus ngetawaiin."
"Ha? cuma karena itu?! Childish banget kamu Go. Hahaha"
"Iya hehehe aku juga ngerasa gitu."
"Oh ya sudah nggak apa-apa . Aku juga ngerasa cantik kok."
"Hahaha"
Hampir satu jam aku mengobrol dengannya. Tiba-tiba kalimat ini tercetus dari mulutku.
"Kamu janji nggak bakal ngelupain aku?"
"Janji. Aku janji"
"Kamu belum ngantuk Go?"
"Udah tapi mau nungguin kamu dulu".
"Hahaha dasar sok kuat! Udah tidur aja sana, aku gak apa-apa"
"Hmm oke deh. Good night".
Ponsel kumatikan dan aku mulai menelusuri PR ku kembali.
Pagi Hari di sekolah aku isi dengan pergi ke Perpus sekolah bersama Jiji dan Tina. Tiba-tiba teman satu kelasku Rohan datang dan berteriak di dekat pintu masuk.
"Hoi Hani Eksakta! Kamu dicari tuh sama Figo Gunawan di luar." teriak Rohan
"Heh, Rohan ngapain kamu teriak-teriak. Ini Perpustakaan tau!". Balas Jiji
"Eh sorry, kan jarang-jarang ngeliat Hani sama Figo berduaan". Cengir Rohan yang kubalas dengan mata yang mendelik.
"Oh suruh aja Figo masuk." Jawabku
Kemudian Figo datang, terlihat dari mukanya bahwa ia sedang kusut.
"Ada apa?"
"Bicara berdua diluar".
Alisku berkerut tak jelas. Saat di luar. Aku punya firasat jelek tentang ini. Pasti!
"Ada apa?" ulangku kedua kalinya.
"Kamu ingat pacarku selama 2 tahun ini, namanya dina."
"Hmm iya ingat, ada apa dengan kalian? jangan bilang kalian bertengkar terus janjiian berkelahi di belakang sekolah."
"Aduh bego banget sih. Kalau bisa janjiian berantem, yang pertama kali aku aja ya kamu."
Hahaha batinku dalam hati. Kelihatannya Figo ini punya dendam pribadi sama mau ngajak aku berantem.
"Ha? cuma karena itu?! Childish banget kamu Go. Hahaha"
"Iya hehehe aku juga ngerasa gitu."
"Oh ya sudah nggak apa-apa . Aku juga ngerasa cantik kok."
"Hahaha"
Hampir satu jam aku mengobrol dengannya. Tiba-tiba kalimat ini tercetus dari mulutku.
"Kamu janji nggak bakal ngelupain aku?"
"Janji. Aku janji"
"Kamu belum ngantuk Go?"
"Udah tapi mau nungguin kamu dulu".
"Hahaha dasar sok kuat! Udah tidur aja sana, aku gak apa-apa"
"Hmm oke deh. Good night".
Ponsel kumatikan dan aku mulai menelusuri PR ku kembali.
Pagi Hari di sekolah aku isi dengan pergi ke Perpus sekolah bersama Jiji dan Tina. Tiba-tiba teman satu kelasku Rohan datang dan berteriak di dekat pintu masuk.
"Hoi Hani Eksakta! Kamu dicari tuh sama Figo Gunawan di luar." teriak Rohan
"Heh, Rohan ngapain kamu teriak-teriak. Ini Perpustakaan tau!". Balas Jiji
"Eh sorry, kan jarang-jarang ngeliat Hani sama Figo berduaan". Cengir Rohan yang kubalas dengan mata yang mendelik.
"Oh suruh aja Figo masuk." Jawabku
Kemudian Figo datang, terlihat dari mukanya bahwa ia sedang kusut.
"Ada apa?"
"Bicara berdua diluar".
Alisku berkerut tak jelas. Saat di luar. Aku punya firasat jelek tentang ini. Pasti!
"Ada apa?" ulangku kedua kalinya.
"Kamu ingat pacarku selama 2 tahun ini, namanya dina."
"Hmm iya ingat, ada apa dengan kalian? jangan bilang kalian bertengkar terus janjiian berkelahi di belakang sekolah."
"Aduh bego banget sih. Kalau bisa janjiian berantem, yang pertama kali aku aja ya kamu."
Hahaha batinku dalam hati. Kelihatannya Figo ini punya dendam pribadi sama mau ngajak aku berantem.

